Supersurface: Monumento Continuo

Manusia tidak akan pernah berhenti dalam mengeskplorasi ide mereka untuk menciptakan teknologi terbarukan. Alam menjadi bahan pendukung dalam mewujudkan impian manusia.


Penulis

Nandhita Narendratmaja

Tanggal

17/04/2019

Kategori

Karya


Renungan tentang keberadaan dan timbal balik manusia terhadap alam kembali menjadi perbincangan. Manusia selalu beranggapan bahwa alam adalah bahan eksploitasi sepanjang waktu tanpa mereka pahami efek ketidakstabilan yang akan timbul setelahnya. Puas dan habis merupakan dua frasa yang dapat menyadarkan mereka akan kepahaman efek tersebut dan berhenti mengeksploitasi. Namun, sepanjang perkembangan zaman manusia tidak akan merasa terpuaskan.


Sejak penemuan alat bantu kehidupan pertama manusia berupa batu dan api hingga komputer super dan teknologi nuklir, manusia berusaha memahami kehidupannya di dunia dengan memenuhi kebutuhannya. Sejak sekedar menjadi pemburu yang mencari sumber daya alam secara langsung hingga mampu menciptakan sumber daya alam terbarukan untuk kebutuhannya sendiri. Sejak menjelma sebagai makhluk nomaden yang hidupnya bergantung terhadap kepada alam sekitarnya hingga beralih menjadi manusia yang mampu merajai alam untuk memenuhi kebutuhan diri. Seiring berjalannya waktu manusia ingin berkembang dengan melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas guna memenuhi kebutuhan yang juga menjadi semakin kompleks.


Dunia pun mulai merubah parasnya, padang rumput bertukar menjadi sawah manusia pula desa yang kemudian menjadi kota. Kota muncul sebagai bentuk proses efisiensi agar kebutuhan manusia dapat terpenuhi dalam waktu yang semakin singkat. Namun manusia tidak hanya menciptakan bangunan kota untuk sekedar efisiensi, mereka memiliki potensi untuk menciptakan hal-hal lain. Piramida, Stonehenge hingga Tembok Besar Cina, merupakan bentuk pemahaman manusia dengan alam yang disinggahinya dengan menciptakan ruang sebagai bentuk interaksinya dengan bumi. Disaat kebutuhan manusia sudah terpenuhi, kebutuhan mereka berubah menjadi berusaha memahami tentang diri sendiri dan alam sekitar. Namun usaha dalam mendesain sebuah kota yang sangat efisien membuat manusia selalu kehabisan waktu. Akhirnya potensi lain yang dimiliki manusia pun perlahan-lahan pudar.


Hal inilah yang disadari oleh para arsitek dari Superstudio. Mereka melihat masa depan dimana arsitektur dapat merubah cara hidup manusia dimana teknologi dapat menyatukan budaya kehidupan manusia. Pada tahun 1969, dengan menggunakan kolase sebagai media cerita, Superstudio membawa sebuah pemikiran baru yang mendorong hubungan antara arsitektur dan alam menuju batas baru. Ide desain dimana kedua bahasa tersebut melebur dalam satu keputusan desain menghasilkan sebuah monumen raksasa yang menyebar luas mengelilingi dunia, monumento continuo.


Sebuah jaringan raksasa yang menjalar di seluruh bagian dunia, membawa sumber daya alam yang dapat menyediakan semua kebutuhan manusia. Jaringan (Grid) ini akan menjadi tempat manusia untuk hidup. Sistem masyarakat yang mulai dari pekerjaan, energi ataupun kekerasan akan sangat terstruktur demi memenuhi kebutuhan umat manusia. Berada dalam sebuah grid seragam tidak mengasingkan siapapun siapapun sehingga dapat memusatkan pikiran untuk memunculkan kembali potensi-potensi yang telah pudar karena tertutupi oleh kewajiban untuk memenuhi kebutuhan dasar.


Kota dan infrastruktur lainnya tidak akan dibutuhkan lagi, manusia dapat tinggal di titik manapun di dalam jaringan tersebut. Tiga hari, dua minggu ataupun sepuluh tahun, selama apapun itu manusia diberikan kebebasan untuk tinggal bagaimanapun sampai kapanpun. Sebuah budaya baru akan tercipta, umat manusia akan terbebas dari hidup yang terikat oleh keinginan dan nafsu.


Monumento continuo tidak dihasilkan sebagai sebuah proposisi desain melainkan sebagai pemikiran yang mempertanyakan tentang sejauh apa manusia dapat mengeksploitasi alam dengan teknologi yang dimiliki. Apakah utopia seperti ini dapat terwujud? Apakah manusia akan menjadi lebih baik jika kondisi seperti ini terjadi? Apa hanya teknologi yang bisa menjadi jawaban pertanyaan manusia yang terpendam selama ribuan tahun? atau bahkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini hanya dapat diselesaikan oleh manusia sendiri?


Tim Superstudio sendiri sekarang sudah berpisah, namun gerakan-gerakan maupun pemikiran yang mereka inisiasi tetap ada sampai saat ini. Pemikiran radikal tentang dampak lingkungan arsitektur, konsekuensi negatif dari teknologi dan ketidakmampuan pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan sosial menjadi sebuah parameter yang tertanam di alam bawah sadar para arsitek dan perancang hingga saat ini.


Illustrasi dimiliki oleh tim Superstudio (1968-1971). (nov/Media AP)