Pemutaran ATFM

Menonton Film Asian Three-Fold Mirror yang diakhiri dengan menjelajah lebih jauh makna didalamnya


Penulis

Syahrul Hajj Alfa Rizqi

Tanggal

27/04/2018

Kategori

Diskusi



(Sabtu, 27/04/2019) Archproject2019 bersama Screenpils bertempat di Surabaya Town Square membawakan sebuah pemutaran film berjudul Asian Three-Fold Mirror. Sebuah karya besutan tiga sutradara asia terkenal dalam sebuah project omnibus dengan tema “Journey” oleh Degena Yun (China), Daishi Matsunaga (Japan), dan Edwin (Indonesia). Film hasil kerja sama Japan Fondation ini telah masuk dalam Tokyo International Film Festival (TIFF) dan mendapat apresiasi yang baik. Terdiri dari gabungan 3 film pendek yang masing – masing berjudul “The Sea”, “Hekishu”, dan “Variable No. 3”.


Pemutaran diakhiri dengan diskusi kecil dengan Meiske Taurisia yang terlibat dalam project tersebut. Meiske Taurisia merupakan seorang produser berlatar belakang Pendidikan arsitektur dan desain tekstil yang berkarya di dunia perfilman dan berhasil menghasilkan berberapa karya seperti “Babi Buta yang ingin terbang (2008)”, “Postcards from the zoo(2012)”, “Rocket Rain (2013)”, “The Fox Exploits the tiger Might (2015)”, “CUTS(2016)” dan “Aruna dan Lidahnya” yang merupakan karyanya di tahun 2018 bersama dengan Palari Film.


Menurutnya dalam film Asian Three-Fold Mirror hal yang ingin digambarkan adalah sebuah hubungan sehari hari yang umum namun tidak dapat dibicarakan secara umum atau dibicarakan secara bebas ( privasi ). filmnya beruhasa menghadirkan adegan adegan tersebut menjadi sebuah narasi film yang menghasilkan sebuah gejolak emosi, amarah, sedih, bimbang, bingung menjadi element dalam film tersebut sehingga menjadikan film yang epic.


“film ini menggambarkan konflik yang teralami di masyarakat asia, umum tapi susah dibicarakan. Dan bahkan untuk menyelesaikannya terkadang dengan seorang Stranger saja mebuat kita bisa terbuka”


“The Sea” – Karya Sutradara Degena Yun, berceritakan perjalanan ibu dan anak dalam menaburkan abu almarhum sang ayah. dalam perjalannya keduanya duduk berdampingan namun tidak pernah melakukan kontak mata dan terus berengkar sampai akhirnya percakapan menyentuh sang ayah yang baru meninggal menghasilkan ledakan amarah. Dan sampai akhirnya mereka sampai di laut dan tampaknya amarah mereka telah hilang.


“Hekishu” – karya sutradara Daishi Matshunaga, menceritakan Suzuki seorang pebisnis yang bekerja di Myanmar yang terlibat dalam proyek peningkatan sistem kereta api. Dengan percaya diri Suzuki mengatakan perubahan ini bertujuan untuk memudahkan kehidupan sehari – hari sampai akhirnya Dia bertemu dengan Su Su seorang gadis penjual kain sampai akhirnya Suzuki mempertanyakn tentang kebutuhan perubahan ini.


“Variable No. 3” – karya sutradara Edwin, berlatarkan di Tokyo, sepasang suami istri bernama Edi dan Sekar dalam perjalananya berlibur. Sekar yang selalu terbayang dengan mantan kekasihnya Jati walau sudah menikah dengan Edi selama 7 tahun sampai akhirnya bertemu Kenji yang seorang pemilik dari penginapan tempat Edi dan Sekar menginap. Untuk mengatasi masalah Sekar dan Edi, Kenji menawarkan sebuah cara yaitu dengan mendatangkan “Variable No. 3”. (nov/Media AP)