Gerimis Bubar

Intip Keseruan Nonton Film Bareng di Arch Project 2019


Penulis

Annisa Febriani P

Tanggal

27/04/2018

Kategori

Exhibition



Big event Arch Project kembali lagi hadir tahun ini, dengan mengusung tema “Arsitektur dan Sinema”. Kali ini, Arch Project ingin mengajak pengunjung untuk mengetahui lebih dalam akan keterkaitan ilmu dalam bidang arsitektur dengan film yang sangat asik untuk ditelisik. Pada hari pertama, terdapat sesi nonton film bareng yang berlokasi di misbar utama. Para pengunjung bisa langsung datang ke acara Arch Project dan mendapatkan tiket di meja registrasi seharga Rp. 25000 untuk bisa menyaksikan empat film sekaligus.


Terdapat dua sesi dalam pemutaran film ini, yaitu sesi pertama yang dimulai pukul 20.00 hingga 20.30 WIB. Sebelum sesi pertama dimulai, panitia memberikan sebuah video pembukaan yang juga merupakan sebuah film pendek. Pada sesi pertama ini, terdapat dua film yang ditayangkan. Yang pertama adalah film yang berjudul Woo Woo karya Ismail B. Secara singkat film ini berkisah tentang seorang pria yang tidak memilki keraguan dalam semua tindakannya namun tidak pernah bertanya dan memendamnya sendiri, hingga dikisihkan ia celaka karena sifatnya tersebut. Film kedua yang ditayangkan, yaitu film yang berjudul “Ballad of Blood & Two White Buckets” yang merupakan film karya Yosep Anggi Noen. Secara singkat, film ini berkisah tentang sepasang suami istri, yang menjual darah sapi (sareh) sebagai mata pencaharian mereka. Walaupun sudah tahu, bahwa hal tersebut tidak baik, namun mereka tetap kukuh untuk berjualan, karena tuntutan kebutuhan. Setelah sesi film pertama ini selesai, maka terdapat breaktime untuk menunggu sesi pemutaran fim kedua dimulai.


Sesi film kedua dimulai, sekitar pukul 20.45 hingga selesai pada pukul 21.25 WIB. Pada sesi kali ini, juga terdapat dua buah film yang ditayangkan. Film yang pertama berjudul “Dan Kembali Bermimpi” sebuah film karya Jason Iskandar. Secara singkat, film ini bercerita tentang tentang pernikahan atas dasar keterpaksaan yang dilakukan oleh pihak laki-laki. Namun, pada akhirnya pihak perempuan memberikan perlawanan dengan dibantu oleh pastor yang menikahkan mereka. Dan film terakhir yang ditayangkan berjudul “Kembalilah Dengan Tenang”. Film ini merupakan film karya M. Reza Fahriansyah. Film ini berkisah tentang kematian seorang anak remaja akibat minum-minuman keras. Kematian anak tersebut, memunculkan banyak masalah baru tentang dimana mayat tersebut dikubur karena terbatas dan mahalnya lahan yang ada, hingga menimbulkan perdebatan antara kedua orang tua si mayat. Di ending film si mayat kembali hidup lagi, akibat mendengar perdebatan diantara kedua orangtuanya, dan membuat beberapa penonton yang menyaksikan juga merasa kaget.



Di akhir sesi dua ini, terdapat sesi diskusi bersama sutradara film terakhir yaitu Reza Fahriansyah. Reza Fahriansyah merupakan seorang sutradara film yang merupakan lulusan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Film “Kembalilah Dengan Tenang” ini merupakan film ke empat Reza. Banyak sekali nilai-nilai moral dan adat kebiasaan masyarakat tentang kematian secara apik dimasukkan oleh Reza Fahriansyah. Menurut beliau, inspirasi terbaik ketika membuat film datang di saat yang tidak terduga. Beliau mendapatkan inspirasi tentang film ini, ketika ayah beliau meinggal, dan beliau ikut serta mengurus proses pemakamannya. Beberapa pengunjung juga sempat memberikan pertanyaan selama sesi diskusi ini berlangsung.


Setelah sesi pemutaran film berakhir, kami berkesempatan untuk mewawancarai pengunjung yang datang. Pengunjung pertama yang kami wawancarai yaitu Ubaidillah (22) asal Sidoarjo. Ubadidillah memang secara khusus datang di acara Arch Project untuk ikut menyaksikan sesi pemutaran film, karena beliau juga berkecimpung dalam dunia film. Menurutnya, film-film yang diputar sangat menarik dan memiliki jalan cerita yang unik. Secara videografi menurut beliau, film-film yang diputar juga sangat bagus. “So far so good” begitu timpalnya.


Kami juga berkesempatan mewawancarai Jodhy (20) seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga yang juga berkunjung di Arch Project dan ikut menyaksikan pemutaran film dari sesi pertama hingga sesi terkahir. Sama seperti Ubaidillah, Jodhy juga memutuskan untuk hadir di Arch Project karena tertarik dengan sesi pemutaran film. Menurutnya dari keempat film yang ditayangkan, film terakhir “Kembalilah Dengan Tenang” merupakan film yang paling menyita perhatiannya. Karena menurutnya, film tersebut sangat bagus dari segi cerita dan juga pesan yang ingin disampaikan. Ia mengatakan bahwa film tersebut membuat penonton emosional dengan jalan cerita dan ending film yang tak terduga. Ia juga mengatkan bahwa, sesi diskusi langsung dengan sutradara film Reza Fachriansyah sangat menyenangkan. Karena bisa berdiskusi secara langsung dengan sutradara filmnya. Bisa mendapatkan banyak ilmu baru yang sangat berguna. Sebagai seseorang yang tidak memiliki latar belakang bidang arsitektur, Jodhy mengungkapkan bahwa ia banyak bisa mendapatkan ilmu baru dan bisa mengetahui lagi arsitektur secara lebih mendalam. Ia berharap kedepannya kegaiatan Arch Project ini dapat berjalan dengan semakin baik, dan dapat memperkenalkan arsitektur kepada masyarakat luas. (nov/Media AP)