ArchProject: TALKSHOW

Archproject berusaha mengundang beberapa tokoh penting dalam hubungan antara Arsitektur dan Sinema guna membuka pikiran terkait pandangan dari berbagai sudut


Penulis

Syahrul Hajj Alfa Rizqi

Tanggal

25/04/2019

Kategori

Diskusi



A PARALLELE BETWEEN ARCHITECTURE AND CINEMA


Archproject 2019 mengangkat tema Arsitektur dan Sinema, dua keilmuan yang berbeda tetapi sangat dekat satu sama lain. Mencoba merepresentasikan arsitektur dengan bahasa yang lain yaitu sinema karena selama ini arsitektur seringkali dipahami wujudnya berupa sebuah bangunan saja. Dengan anggapan bahwa kedua bidang tersebut memilki parameter yang sama yaitu ruang dan waktu. Membawakan pembica yang ahli pada bidangnya Stephanie Larassati (AT-LARS Architects), Artiandi Akbar (Office SA), dan Jay Subiakto (Sutradara dan Creative Director) Archproject 2019 mencoba mem-brekdown dua bidang ini dalam talkshow pada hari Sabtu, 27 April 2019 bertempat di Atrium Sutos.


Stephanie Larassati lahir pada tahun 1985, pernah mengemban pendidikan sarjana dan masternya di Technische Universität, Berlin, Germany. Karya-karya dari pengalamannya di Hascher Jehle Architekten dan Huber Staudt Architektur membawanya pada berbagai penghargaan. Selain itu, Stephanie juga menyelami dunia desain teater. Ia mendirikan LARGO Architects bersama Gosha Muhammad, terlibat dalam beberapa proyek misbar bersama BEKRAF, dan akhirnya pada Juni 2018 mendirikan biro arsitek AT-LARS di bawah Namanya sendiri. Salah satu karyanya adalah Misbar Kayong, Misbar Sabang, Museum Temporer “Rekoleksi Memori”, dan Museum Memorial Mei 1998


Selanjutnya, Artiandi Akbar (lahir di Bandung, 1988) lulusan dari Jurusan Arsitektur UNPAR pada tahun 2010 dan Sekolah Seni dan Desain Central Saint Martins pada tahun 2016, Artiandi adalah seorang arsitek yang berpraktek, editor sastra, dan tutor studio arsitektur paruh waktu Pada 2011 Artiandi ikut mendirikan studio desain House the House dengan fokus pada proyek-proyek komunitas lokal, tahun berikutnya 2012 ia mengembangkan minat artistiknya melalui serangkaian proyek seni video dan fotografi dengan nama Leftfield Leisure. Sekembalinya dari London pada tahun 2016, Artiandi mendirikan Kantor Shabrina Artiandi di Bandung dan sebagian lagi bekerja sebagai editor publikasi untuk arsitek andramatin.


Dan pembicara terakhir, Jay Subyakto yang lahir di Ankara, Turki, 24 Oktober 1960 adalah seorang sutradara, penata artistik dan creative director. Jay menamatkan pendidikan sarjana arsitekturnya dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia pada tahun 1981. Kiprahnya berawal pada tahun 1990an ketika menjadi sutradara video klip alm. Chrisye bertajuk Pergilah Kasih dan mulai semenjak itu Jay lebih giat lagi menekuni bidang seni. Pada tahun 2017, Film “Banda, The Dark Forgotten Trail” yang disutradarai olehnya meraih penghargaan Piala Maya sebagai Film Dokumenter Panjang Terpilih 2017 dan Nominasi Piala Citra 2017 kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik. (nov/Media AP)