ArchProject: EXPOSITION

ArchProject berusaha memecah elemen pembentuk film dengan cara menampilkan film dengan hanya menyuguhkan latar visual ataupun latar suara agar konstruksi imaji para pengunjung dapat tereksplorasi.


Penulis

Syahrul Hajj Alfa Rizqi

Tanggal

24/03/2019

Kategori

Exhibition



Mendengar kata film pasti terbayang sebuah adegan yang menarik sekaligus menegangkan bahkan ada yang menyedihkan pada adegan yang tersajikan. Sebagai penikmat bioskop, rutinitas kita sama, datang, membeli tiket, duduk dan menonton. Mata dimanjakan dengan visual dan hati terasa puas.


Memang, Film adalah media komunikasi bersifat audiovisual untuk menyampaikan suatu pesan kepada sekelompok orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu (Effendy,1986:134). Film, selain dibuat untuk menyampaikan cerita, ia adalah sebuah medium visual. Sebagai medium, film merupakan proses kolaboratif berbagai pihak. Salah satunya dalam bidang penyutradaraan dan desain produksi. Dalam karyanya, kebanyakan dari kita terfokus pada narasi dan cerita sehingga teralihkan focus dari segi visual dari sebuah film.


Efek desain produksi sendiri membantu ‘kontruksi imaji’ penonton terhadap set latar film tersebut. Saat menonton, kita tidak melakukan apapun, kita diam menonton tidak kemana – mana namun juga kemana – mana. Berkat efek desain produksi ini suasana ruang maya menjadi nyata terasa. Suasana 20an, 50an, ataupun futuristik dapat dihadirkan dalam set film.


Namun, bagaimana jika sebuah visualisasi ini dihilangkan ? Akankah kita bisa menikmati film hanya dengan suara saja ? Archproject 2019, sinema dan arsitektur mengajak pengunjung untuk mengeskspresikan sebuah karya film hanya dengan telinga {dibaca: audio}. Hanya dengan mendengarkan audio 2 set instalasi dari Archproject 2019 akan mengantarkan anda untuk mengeksplorasi imaji masing-masing terhadap visualisasi film tersebut dengan interpretasi yang berbeda dari latar adegan film yang seharusnya.


Yang pertama adalah sebuah lorong hitam yang akan membawa anda mengkeksplore imaji anda dengan cara berdiri di dalamnya dan mendangarkan audio dari film yang diputar. Dapat menampung beberapa orang sehingga anda dapat merasakan sensasi bioskop berdiri berimajinasi. Kedua, sebuah kotak hitam yang didalamnya terdapat maket gambaran latar suatu film yang akan diputar akan membantu anda dalam mengeksplorasi imaji terhadap adegan film melalui visual saja.


Salah satunya dengan menghadirkan film Marlina: Pembunuh dalam Empat Babak. dialog ruang yang tegas terlihat dalam adegan kamar. Pemerkosaan dan pembunuhan terjadi di sana. Kedua adegan tersebut menjadi adegan kunci dalam alur cerita. Kamar sebagai ruangan pendukung suasana tersebut. Keempat dindingnya tertutup, tidak menyisakan orang lain untuk mengintip aib yang terjadi. Jendela berada di arah yang tidak bisa diintip. Penataan furnitur pun juga diperhitungkan. Meja rias dengan kaca besar di depan tempat tidur menampilkan adegan pembunuhan dari sudut berbeda. Set kamar ini mendukung suasana mencekam yang terjadi.


pembunuhan dari sudut berbeda. Set kamar ini mendukung suasana mencekam yang terjadi. Dalam pembuatan set arsitektural film, pemakaian warna direduksi hingga menjadi satu warna saja. Pemakaian warna putih mungkin mengurangi informasi tentang tekstur dan material. Namun memberikan informasi esensial tentang ruangan, struktur, dan pergerakan subjek dalam ruang. (nov/Media AP)