AP - Nomad

Arsitektur maupun Sinema menjadi topik bahasan yang sangat menarik ketika berhasil diulas tentang makna keberadaan masing-masing bagi keduanya.


Penulis

Syahrul Hajj Alfa Rizqi

Tanggal

18/04/2019

Kategori

Diskusi



Jumat (29/03/2019) ArchProject 2019 bersama dengan NOMAD, sebuah kegiatan diskusi dari Himasthapati Arsitektur ITS menghadirkan sebuah Pre-Event berupa Talkshow mengenai arsitektur dan sinema. Bertempat di Qubicle Surabaya, menghadirkan pembicara Ir. I Gusti Ngurah Antaryama, Ph. D yang aktif sebagai akademisi Arsitektur ITS dan Rendy Hendrawan ST., M. Sc seorang arsitek muda yang aktif dan pendiri Biro Supratman Arsitektura. Acara yang ditujukan kepada masyarakat umum ini berhasil menarik antusias peserta sehingga menjadi diskusi yang menarik selama acara berlangsung.


Mengangkat tema arsitektur dan sinema— dua keilmuan yang berbeda tetapi sangat dekat satu sama lain. Arsitektur selama ini dikenali wujudnya berupa sebuah bangunan dengan media representasi arsitektur untuk menjelaskan tujuan dan ide desain seringkali dibatasi oleh gambar dua dimensi. Padahal untuk merasakan sebuah ruang, diperlukan medium lain agar orang-orang bisa merasakan hal yang sama seperti yang diinginkan oleh keinginan sang arsitek. Sementara itu, sinema merupakan media dua dimensi yang memiliki kemampuan untuk menciptakan mekanisme persepsi dan psikologi dari sebuah adegan yang diinginkan dari pembuatnya kepada para audiens (McGloin, 2014). Dari persilangan dua ilmu itu, didapatkan hipotesis bahwa kedua hal ini mempunyai parameter yang sama yaitu ruang dan waktu.



Rendy memaparkan bahwa arsitektur dan sinema berkaitan antara fiksi dan realitas. Keduanya mengharapkan kesempurnaan. Dalam arsitektur yang kesempurnaan itu biasa disampaikan dalam kata-kata maupun gambar visualisasi. Sedangkan dalam sinema dimana fiksi dan realita berperan dalam pengembangan narasi dalam adegan adegan pada film. Mengutip dari film Manhattan karya Woody Allen - “Black and white as romanticism protagonist that immortal for NYC”. Sang sutradara Woody Allen mencoba menggambarkan kota New York sebagai romansa hitam putih, dengan menunjukan arsitektur Kota New York dalam balut fiksi hitam putih dan realitas pada cerita merupakan romansa (kesempurnaan) dibalut pada narasi film ini.


Sedangkan Antaryama berpendapat bahwa sinema menjadi sebuah karya ketika narasi, storyboard dan rekaman terjadi, sedangkan arsitektur terwujud melalui gambar dan model yang mengkespresikan ide arsitek, tapi itu merupakan narasi yang membentuk pengalaman (Prateeka, 2015). Narasi menjadi peran penting dalam dua bidang ini karena “narrative have a power of creating ‘memory’ and ‘making what absent present’.” Diantara kedua narasi antara arsitektur dan sinema beliau memaparkan terdapat beberapa parameter antara lain ruang, kejadian, gerakan, dan waktu.




Namun dibalik perbedaan antara arsitektur dan sinema yang telah menjadi topik uraian diskusi, Rendy dan Antaryama setuju bahwa arsitektur maupun sinema mempunyai kesamaan yang menjadikan hubungan antar keduanya menjadi sangat erat untuk saling melengkapi. Mereka yakin apabila penonton memahami peran keduanya dalam satu rangkaian ruang dan waktu, arsitektur dan sinema akan menjadi hal yang fantastis. (nov/Media AP)